Otoritas Sang Midas Seni Rupa

KOLEKSI OEI HONG DJIEN
Otoritas Sang Midas Seni Rupa

LUKISAN itu langsung mengingatkan orang pada lukisan yang dulu banyak dijajakan di tepi jalan, baik subject matter maupun kualitas karyanya. Ada gerobak sapi compang-camping, dengan dua sapi di kiri dan kanan dan seorang lelaki mengenakan caping di dekatnya. Ini gaya lukisan mooi indie (Hindia Molek) yang diadopsi pelukis otodidak semacam Santoso, pelukisnya, pada 1965. Yang mencengangkan bukan pelukisnya, tapi pemiliknya, Oei Hong Djien, 70 tahun, kolektor yang menjadi panutan banyak kolektor lukisan. Ia heran pernah terpikat pada lukisan ini. "Saya malu memajangnya," ujarnya.

Toh, demi masa lalu, ia memajang lukisan itu dalam pameran karya seni rupa koleksinya di Jogja Gallery, Ahad pekan lalu. Ia memamerkan 49 karya dari 1.500 koleksi museum pribadinya di Magelang, Jawa Tengah. Lukisan gerobak sapi itulah karya lukis pertama yang ia beli. Selain memajang koleksinya, pameran juga menampilkan cerita seputar pembelian karya-karya itu. Karya lukis berjudul Gerobak Sapi tadi merupakan koleksi pertamanya yang ia beli Rp 10 ribu pada 1965. "Jika dikonversi dengan uang sekarang, nilainya cuma Rp 10," katanya. Maklum, sebagai dokter yang baru saja lulus dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Hong Djien belum punya cukup uang.

Kini Hong Djien adalah seorang kolektor yang selera seninya diikuti oleh puluhan kolektor. Tapi karya bergaya mooi indie itulah yang membentuk kecintaannya terhadap seni rupa. Ia kala itu membelinya karena ayahnya juga seorang kolektor yang memenuhi dinding rumahnya dengan lukisan yang tentu saja bergaya mooi indie. Salah satu yang diwariskan kepadanya adalah lukisan still life berupa buah-buahan di atas nampan yang diduga karya pelukis Belanda.

Kegilaan Hong Djien pada seni rupa menjadi-jadi ketika ia pindah ke tempat kelahirannya di Magelang, setelah ayahnya yang pedagang tembakau wafat. Kala itu ia sudah dua tahun mengikuti kuliah spesialis patologi di Pathologische Instituut, Katholieke Universiteit Nijmegen, Nederland. Ia banting setir menjadi pengusaha tembakau dan akhirnya menjadi kepercayaan perusahaan rokok sebagai penilai kualitas tembakau (grader). Industri rokok yang basah membuat dompetnya tebal, dan Yogyakarta adalah surga bagi kolektor berkantong tebal.

Dengan dompet yang sudah cukup tebal, Hong Djien percaya diri datang di rumah pelukis Affandi, yang akan menggelar pameran tunggal pada 1982. Saat itu ia sudah memilih tiga lukisan. Tapi, ketika tiba giliran membicarakan harga, rupanya tiga lukisan itu menguras dompet Hong Djien, bahkan masih kurang. Maklum, saat itu lukisan Affandi berkisar Rp 3 juta, sedangkan harga karya pelukis lain masih sekitar ratusan ribu.

Tetapi Affandi yang butuh uang punya cara agar transaksi bisa berlangsung. Pelukis ekspresionis ini menyarankan Hong Djien mencicil. "Berapa lama?" tanya Hong Djien. "Sak geleme (semaumu)," jawab Affandi. Bahkan, kata Affandi, kalau pedagang tembakau ini mau mencicil, ia akan diberi korting 10 persen. Hong Djien pun pulang ke Magelang dengan memboyong tiga lukisan Affandi, salah satunya berjudul Adu Ayam.

Tak semua keinginan Hong Djien terhadap lukisan bisa mulus dengan cara mencicil. Ia gagal membeli karya lukis Djoko Pekik yang dia anggap masterpiece, semisal karya berjudul Keretaku Tak Berhenti Lama atau Celeng. "Harganya tak terjangkau," katanya. Tapi di kalangan seniman beredar luas isu bahwa ia tak suka lukisan karya bekas anggota Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat) ini. Walhasil, ia membeli satu karya Djoko Pekik berukuran kecil dengan subject matter penari ledhek dan badut dari goresan krayon di atas kertas. Dengan membeli lukisan ini ia ingin menepis isu tadi. "Saya punya, meski bukan karya yang begitu bagus," katanya. Lukisan berjudul Bercanda ini merupakan satu-satunya karya Djoko Pekik dalam koleksi Hong Djien.

Hubungan Hong Djien dengan pelukis tak selalu hubungan transaksi antara pembeli dan penjual. Ia sering bertandang ke rumah seniman atau sebaliknya. Ia belajar pada seniman, tapi saat lain ia mengajari seniman. Misalnya, ia banyak belajar tentang lukisan dengan pelukis Kwee Ing Tjiong, murid pelukis S. Sudjojono. Dari Kwee-lah ia mengenal pelukis senior Indonesia semacam Affandi, Sudjojono, dan Widayat. Belakangan Kwee justru minta Hong Djien menilai karyanya. Sebagai bentuk rasa hormat Kwee pada Hong Djien, ia melukis sosok Hong Djien. Karya ini bertajuk The Sharp Eyes of the Collector.

Ia tak lagi sekadar punya otoritas untuk menilai kualitas daun tembakau, tapi kini ia dinilai punya otoritas dalam menentukan kualitas karya seni rupa. Otoritasnya inilah yang dipertimbangkan banyak seniman muda. Ia bak Raja Midas. Setiap lukisan yang ia pegang berubah menjadi emas. Sebab, setiap kata yang keluar dari mulutnya tentang satu lukisan menjadi patokan bagi puluhan kolektor untuk memutuskan membeli atau melupakannya.

Tak mengherankan bila banyak seniman yang rajin menemui Hong Djien di rumahnya, mendiskusikan karyanya, dengan harapan Pak Dokter, panggilan akrab Hong Djien, menyukai karya mereka. Harapan selanjutnya, para pengikut Hong Djien membeli karya mereka.

Misalnya pelukis abstrak Edi Sunaryo berhasil mengubah sikap Hong Djien, yang semula tak menyukai karyanya, setelah mereka berdiskusi tentang filosofi "kosong bisa penuh dan penuh bisa kosong". Seusai diskusi, Edi menghasilkan lukisan yang disukai Hong Djien. Satu karya lukis bertajuk Sayap pun pindah ke rumah Hong Djien secara cuma-cuma. Sejak itu, kata Hong Djien, karya Edi laku pesat.

Adapun Syahrizal Koto adalah pematung yang paling rajin menyambangi kolektor yang kerap juga disapa dengan OHD ini. Setiap kali pematung kelahiran Pariaman, Sumatera Barat, itu membuat desain patung baru, ia selalu memperlihatkan kepada Hong Djien. Jika Hong Djien berminat, Syahrizal baru mencetaknya dengan bahan perunggu. "Saya yang menyarankan agar perunggunya diberi warna," ujar Hong Djien. Syahrizal dikenal sebagai sedikit pematung yang karyanya laris manis. "Sekarang dia udah gak pernah datang lagi, karena udah laku."

Menurut Hong Djien, hal yang sama juga dilakukan pelukis Entang Wiharso, yang dikenal dengan karya lukis yang berukuran besar. Hubungan Entang dan Hong Djien sangat dekat. Setiap kali Entang akan membuat karya yang dia kira istimewa, Pak Dokter adalah orang pertama yang ia beri tahu. Misalnya ketika Entang membuat karya lukis berukuran raksasa yang terdiri atas tiga panel berjudul Interconnection. "Entang sering minta tolong saya menyelamatkan karyanya," ujar Hong Djien. Maksudnya, agar Hong Djien membeli karya itu.

Otoritas Hong Djien dalam seni rupa tak sebatas di kalangan kolektor dan seniman Indonesia. Ia juga didaulat menjadi anggota Dewan Direktur Singapore Art Museum dan Art Retreat Singapore. Pengaruhnya ini tampak juga dalam karya lukisan Yuswantoro Adi berjudul Masterpieces of Indonesia. Karya dengan teknik realis fotografis ini memenangi penghargaan Grand Award Philip Morris 1997. Saat itu karya ini merupakan satu-satunya yang pernah memperoleh penghargaan itu, dan sudah dibeli Hong Djien. Menurut salah seorang juri, Kwok Kian Chow, mereka berdebat sengit menentukan pemenangnya. "Seandainya kita tahu bahwa lukisan itu (karya Yuswantoro Adi) koleksinya OHD, kita tidak perlu berdebat. Langsung saja kita angkat sebagai pemenang pertama," ujar sang juri sebagaimana dituturkan kembali oleh Hong Djien.

Toh, otoritas Hong Djien pernah terusik ketika pada 1980-an ada seseorang datang ke rumahnya di Magelang membawa lukisan yang diakui sebagai karya Raden Saleh. Karya lukis itu menggambarkan seorang pemburu sedang bertarung dengan hewan buruannya. Hong Djien tertarik dan membelinya Rp 10 juta. Suatu ketika ada kolektor yang ingin membeli lukisan itu Rp 100 juta, tapi Hong Djien menolak. Karena ia memang tidak pernah menjual lukisan koleksinya.

Hong Djien kemudian meminta seorang ahli lukisan Raden Saleh asal Jerman, Dr Werner Krauss, meneliti lukisan itu. Ternyata bukan karya Raden Saleh. "Tapi Raden Salah," kata Hong Djien. Lukisan itu palsu, sebagaimana ia tertipu ketika membeli lukisan palsu bercorak abstrak geometris yang diakui sebagai karya Ahmad Sadali. "Orang bilang: kalau kamu tidak pernah dapat lukisan palsu, lukisan keliru, kamu belum bisa disebut kolektor. Karena belum membayar uang kuliah," ujarnya.

Raihul Fadjri

 

SOURCE

 

EXHIBITION ON-VIEW




OHD Museum

OHD Museum is a modern and contemporary art museum owned by dr Oei Hong Djien (OHD). As a well-known art collector, curator, honorary-advisor to Singapore Art Museum, dr Oei Hong Djien started his collections in early 1970s.

Currently, with a vast collection of more than 2000 artworks, ranging from paintings, sculptures, installations and ceramics from different time periods, OHD Museum is located on Jalan Jenggolo 14, in the city of Magelang Central Java – Indonesia.



Books

By: Dr. Oei Hong Djien