Exhibition

Kurator:

Suwarno Wisetrotomo

 

Seniman:

A. Mustofa Bisri | Affandi | Butet Kartaredjasa | Dadang Christanto | Dolorosa Sinaga | F. Sigit Santosa | Franziska Fennert | G. Djoko Susilo | Goenawan Mohamad | Handojo Simodihardjo | Hendra Gunawan | Jitet Kustana | Kwee Ing Tjiong | Nasirun | Ong Hari Wahyu | S. Soedjojono | Soedibio | Widayat

 

Kemanusiaan terkait dengan nilai-nilai yang dipahami dan diyakini setiap manusia, dalam hubungannya dengan sesama manusia, meliputi cinta-kasih, asah-asuh, tolong-menolong, gotong-royong, menghargai perbedaan, menjaga kebersamaan, menyadari keterbatasan masing-masing, dan dengan demikian berkehendak untuk saling melengkapi. Salah satu prinsip dasar kemanusiaan adalah “kemanusiaan yang adil dan beradab”. Kemanusiaan, keadilan, keberadaban saling bertaut, dan dapat dibangun sejak dalam pikiran, kemudian menjadi ucapan, dan mewujud dalam tindakan. Kesadaran, pikiran, ucapan, dan tindakan tidak saling mengkhianati, tetapi saling mengonfirmasi.

Namun karena didorong oleh berbagai kepentingan – sosial, ekonomi, politik – seringkali manusia ingkar pada amanah kemanusiaannya. Sang manusia sering menjelma menjadi sosok-sosok bengis, tamak, rakus, penista, bohong, khianat, bahkan terhadap sesama. Tak segan menelikung, tega menindas, nyaman merampok, demi kepentingan pribadi, kerabat, kelompok, atau golongannya. Semangatnya adalah menyingkirkan yang lain, menolak liyan. Karena dorongan kepentingan, manusia seringkali mengorbankan kemanusiaannya.

Bermula dari kegalauan Gus Mus (K.H. Ahmad Mustofa Bisri) dan kegalauan kita semua terhadap situasi manusia dan kemanusiaan akhir-akhir ini, terutama terkait dengan perkara sosial, ekonomi, politik yang penuh guncangan, pada suatu waktu terjadi percakapan (antara Dokter Oei Hong Djien, Gus Mus, Djoko Susilo, Kwe Ing Tjiong, dan saya). Ujung percakapan, merancang sebuah pameran seni rupa bertema ‘manusia dan kemanusiaan’. Tujuannya ingin menebar rasa galau tersebut kepada para aparatus negara, politisi, aktivis, dan khalayak luas, melalui karya-karya seni rupa.

Pameran ini ingin mengigatkan kembali, betapa seniman/perupa sesungguhnya dapat mengambil peran, merayakan, dan memuliakan “manusia dan kemanusiaan” demi kehidupan semesta yang lebih bahagia dan beradab. Para perupa, melalui karya-karya gubahanya, dengan caranya yang khas, diharapkan dapat menghadirkan karya-karya yang menggugah, yang memancing perenungan, dan yang menyodok kesadaran terkait krisis kemanusiaan. Jika politik dalam situasi menegangkan dan bengkok, maka kesenian yang meluruhkan dan meluruskannya. Bukankah politik yang tegang dan bengkok itu sesungguhnya karena dipicu oleh syahwat kuasa, yang menjelma menjadi rasa kemaruk yang sangat, lalu dengan culas memainkan dusta, dan memelintir fakta, termasuk memelintir pengetahuan khalayak ramai.

Pesan utama dari pameran ini adalah menyorongkan perihal manusia dan kemanusiaan dari perspektif renungan dan gugatan. Para perupa; K.H. Mustofa Bisri (Gus Mus), Djoko Susilo, Kwee Ing Tjiong, Goenawan Mohamad, Nasirun, Butet Kartaredjasa, Dolorosa Sinaga, Ong Hary Wahyu, Franziska Fernet, Jitet Koestana, Handojo Simodihardjo, menggubah karya-karya baru yang bertolak dari tema “Manusia dan Kemanusiaan”. Pameran ini dilengkapi dengan karya-karya koleksi Museum OHD yang dipilih sesuai dengan tema, yakni karya Affandi, S. Sudjojono, Hendra Gunawan, Soedibio, Widayat, Dadang Christanto dan lukisan karya F. Sigit Santosa merupakan koleksi Butet Kartaredjasa.

Karya-karya pada pameran ini bertolak dari hasrat untuk menyampaikan suara hati; terkait kekuasaan, kebohongan, kekerasan, dan kemunafikan. Yang belum tertulis dalam puisi, yang belum tertuang dalam esai-esai, dituangkan dalam bahasa rupa yang otentik. Mereka menyuarakan, betapa manusia secara sadar dengan segenap kebengisannya melakukan bunuh diri pada sisi kemanusiaannya. Para perupa menyapa melalui karya-karya seni rupa untuk menyodok kesadaran kita, siapa pun, sekaligus menggugat terjadinya krisis kemanusiaan, agar tidak terperosok semakin dalam ke kubangan kebiadaban.

Tema “Manusia dan Kemanusiaan” sesungguhnya sebuah tema yang sangat terbuka dan longgar. Seniman, karya seni, peristiwa pameran, saling bertautan, dan merupakan salah satu metode untuk mendiseminasikan nilai-nilai manusia dan kemanusiaan, di tengah silang sengkarut zaman yang bergerak demikian cepat.

 

Suwarno Wisetrotomo

Kurator

 


 

Mementos from Artists to An Art Lover

 

It’s very likely that amidst the collectors in the Indonesian art world—no name has remained in the tongues and hearts of the artists, mainly the artists in Yogyakarta, other than dr. Oei Hong Djien a.k.a. OHD a.k.a. Pak Dokter.

That’s why, let’s say if you conduct a survey in the current Indonesian art world, especially in Yogyakarta: what is the very first name that comes up in your mind when thinking of a collector? The very likely answer is dr. Oei Hong Djien a.k.a. OHD a.k.a. Pak Dokter.

Such analogousness assures me that, having lived for approximately four decades with art, having read, dined, and slept with art, as well as having loved art in sadness and happiness, with all entirety—being 80 years old, dr. Oei Hong Djien a.k.a. OHD a.k.a. Pak Dokter has beautifully reflected the following words of Lewis Hyde, 2007:

A work of art can survive without the market—but where there is no gift there is no art.”

It appears that, among thousands of artworks in his collection acquired by way of purchasing, dr. Oei Hong Djien a.k.a. OHD a.k.a. Pak Dokter has kept hundreds of artworks, being the gifts from the artists. Some are displayed in this exhibition, the oldest, dated 1967, is a gift from a painter, Widayat—and the youngest, dated 2019, is a gift from a sculptor, Hari Susanto.

Most of these were definitively given by the artists after he officiated their art exhibition. Still in this context, I find dr. Oei Hong Djien, a.k.a. OHD, a.k.a. Pak Dokter unparalled in the art world in this Archipelago. Even, from the very first time he has started to open an art exhibition in 1990, it’s highly probable that he is a collector having the most recorded score in officiating art exhibitions.

Some of the remaining items in his collection are tokens of gratitude from the artists for his generous overseas trip companionship or his constant support to their creativity. The rest are mementos from the artists intended as precious reminiscence, if not historical, for dr. Oei Hong Djien a.k.a. OHD a.k.a. Pak Dokter to keep—instead of expecting him to display these in OHD Museum.

Therefore, when designing this exhibition some six months ago, dr. Oei Hong Djien a.k.a. OHD a.k.a. Pak Dokter and I reached a concord to name it “The Gift”. We understand that the word of “gift” contains the meanings of “present, grant, token, souvenir, and memento”. The word “gift” contains further meanings of “talent, flair, aptitude, and blessing” allowing great artworks to have not only artistic value, not even a sheer commercial value, but also social value in the hands and memories of a collector.

Hence, I would also like to crystallize such social value in this exhibition being the mementos from the artists to an art lover named dr. Oei Hong Djien a.k.a. OHD a.k.a. Pak Dokter for his instilled commitment on art to celebrate its eightieth birthday this year.

 

Magelang, 27 April 2019

 

WAHYUDIN, Exhibition Curator

 

 

 

 

 

 


H. Widayat Centennial Celebration: 100 works for 100 years marks the 100th anniversary of the birth of renowned Indonesian artist Haji Widayat (1919-2002). The exhibition is put together to celebrate the magic that has enchanted so many for so long.

 

Widayat was an artist of incredible versatility and range who remained inventive throughout his artistic career of 50 years. As adapt in the naturalistic style as with modernist abstraction, Widayat was a storyteller at heart and his thematic interests spanned the imaginary, the mystical, and the everyday customs and pleasures of Javanese life.

 

Taking care to include the critical, the popular and the never-seen, the centennial exhibition draws entirely from the collection of Dr Oei Hong Djien and presents Widayat’s oeuvre in seven thematic sections:

Gallery 1: Abstraction, and Works on Paper

Gallery 2: Flora and Fauna, and Deep-Sea Fish

Gallery 3: Faces and Masks

Gallery 4: Mythology

Galleries 5 & 6: Everyday Life

 

 

H. Widayat Centennial Celebration: 100 works for 100 years is curated by Joanna Lee, and is launched in conjunction with Biennale Jogja XV (2019).

 

 


EXHIBITION ON-VIEW




Blog

OHD Museum is a modern and contemporary art museum owned by dr Oei Hong Djien (OHD). As a well-known art collector, curator, honorary-advisor to Singapore Art Museum, dr Oei Hong Djien started his collections in early 1970s...



Mata Air Bangsa: Persembahan Untuk Gus Dur dan Buya Syafii Maarif

  Pameran Seni Rupa MATA AIR BANGSA Persembahan Untuk Gus Dur dan Buya Syafii...


H. WIDAYAT CENTENNIAL CELEBRATION: 100 WORKS FOR 100 YEARS

Books

By: